Rabu, 01 Februari 2012

Bukik Bertanya : Melawan Diri Sendiri

Tulisan ini saya buat untuk mengikuti program om Bukik di Bukik.com. Saya tertantang untuk menjadi narasumber bukik bertanya, selain saya yang memang seorang bukikers ternyata jika terpilih tulisan kolaborasi bukik bertanya akan diterbitkan menjadi sebuah buku, wow.

Tentang Nama

Lahir bulan Januari tahun 1990, saya adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Nama saya Hendra Yudhanto namun jarang sekali saya dipanggil dengan panggilan Hendra.

Banyak sebutan untuk panggilan saya, setiap fase jenjang pendidikan saya dipanggil dengan sebutan yang berbeda-beda, entah kenapa tapi hal itulah yang bisa membuat saya lebih dikenal. Ketika SD saya dipanggil dengan sebutan Hendra. Y, karena nama Hendra di kelas saya berjumlah empat orang, jika ada teman yang memanggil nama Hendra alhasil ke-empat orang tersebut akan nengok, maka nama saya di beri embel-embel “Y”, yang berarti Yudhanto, ada Hendra. K, Hendra. P dll. Ya kalian boleh menyebutnya nama Hendra adalah nama yang sangat pasaran.

Lalu, ketika SMP saya di panggil Doyok. Bukan berarti wajah saya mirip pelawak Doyok, tetapi waktu jaman SMP dikalangan teman-teman saya sedang ngetren memanggil “nama bapak”, nama bapak yang biasanya bernama sangat Indonesia banget dan jadul jadi lawakan yang sangat menggelikan waktu itu. Nama bapak saya adalah Handoyo, maka teman saya memanggil saya dengan nama Handoyo. Seiring berjalannya waktu nama Handoyo diplesetkan menjadi Doyok, entah apa alasannya saya lupa. Selama kurang lebih dua tahun saya menyandang predikat nama Doyok, walau ledek-ledekan nama bapak sudah mulai tidak ngetrend saya masih tetap dipanggil Doyok.

Beranjak SMA, saya dipanggil dengan sebutan Marco. Berawal dari seorang teman yang mengira saya bernama Marco, padahal dikelas saya tidak ada orang yang bernama Marco, entah bagaimana ia bisa terpikirkan nama tersebut. Hingga sampai kelulusan SMA, saya tetap dipanggil Marco.

Sekarang saya melanjutkan kuliah di Yogyakarta, dikota pelajar ini saya dipanggil dengan sebutan Cendol, karena gaya tidur saya yang suka meliuk-liuk dan lentur. Lalu di komunitas lainnya saya di panggil Teves, karena seorang teman yang ngotot bilang bahwa wajah saya mirip Teves pemain sepakbola liga Inggris berkebangsaan Argentina.

Kejadian paling mengetarkan

Saya lahir dari keluarga yang bisa dibilang tidak harmonis, sedari saya SMP saya selalu mendengar orang tua saya bertengkar dari pertengkaran kecil hingga pertengkaran sangat hebat, biasanya terjadi setiap pagi sebelum ibu saya berangkat kerja.

Ayah saya adalah seorang yang sangat mencintai keluarganya, terlebih pada anaknya. Pada tahun 1998 saat krisis moneter ayah saya adalah salah satu korban PHK dari beribu-ribu pegawai yang di PHK di Indonesia. Setelah kehilangan pekerjaan beliau berusaha menjadi seorang wirausaha, beliau sempat mendirikan pabrik tempe namun beliau ditipu oleh pegawainya sendiri dan akhirnya pabrik tempe tersebut bangkrut lalu mendirikan rumah makan nasi goreng, karena persaingan usaha di kanan dan kiri dan sepinya pengunjung akhirnya usaha beliau bangkrut lagi dan banyak pekerjaan-pekerjaan lainnya yang berusaha beliau lakukan.

Di tahun 2002, sepulang saya sekolah saya menemukan ayah saya tergeletak tengkurap di ruang keluarga, saya pikir beliau hanya tertidur pulas, lalu saya yang juga waktu itu lelah masuk ke kamar untuk tidur. Sampai malam hari beliau masih tengkurap ditempat yang sama, tidak lama berselang tetangga saya berkunjung kerumah. Lalu saya dan tetangga saya membangunkan ayah saya namun berapa kali dibangunkan dan diguncang-guncang tak bangun juga, ternyata beliau terkena terkena serangan stroke seketika itu pula di bawa kerumah sakit. Setelah kejadian tersebut beliau lumpuh bagian tubuh sebelah kanan.

Hingga pertengahan tahun 2008, saya mendapat kabar bahwa ayah saya meninggal dunia di Semarang. Waktu itu saya memang sudah lama tidak bertemu ayah saya, setahu saya beliau sedang menjalani terapi di Semarang bersama keluarga.  Saat beliau dikubur saya benar-benar tak bisa menahan air mata, saya menangis sejadi-jadinya, badan saya bergetar tak dapat saya kendalikan rasanya ingin pingsan karena waktu itu tubuh saya benar-benar menjadi lemas namun saya masih bisa menahannya.

Masih di tahun 2008 selang tiga bulan dari kematian ayah saya, ibu saya sakit parah. Berbulan-bulan saya menemani ibu saya dirumah sakit. Hingga suatu hari sepulang saya dan paman saya mencari pengobatan alternativ untuk ibu saya yang masih tergeletak dirumah sakit. Saya dan paman saya berhasil mendapat sebotol air putih yang katanya dipercaya dapat menyembuhkan penyakit ibu saya.

Masih dengan menenteng sebotol air 1.5 liter ditangan, di lorong perjalanan menuju kamar ibu saya dirawat di RS, saya melihat teman ibu dan tante saya menangis sambil berpelukan, saya berfikir ada apa ini?  jangan-jangan?. Lalu saya berlari menuju kamar ibu saya dirawat. Benar saja pikiran buruk saya, ibu saya sedang dalam keadaan sekarat, badannya bergerak-gerak sedikit seperti kejang kecil dan sedang dibacakan surat yasin oleh salah seorang temannya.

Seketika air mata saya mengalir dan tanpa sadar menjatuhkan air yang saya bawa, saya berteriak memanggil ibu saya dan mengatakan “mamah jangan tingalin Hendra” sambil memeluknya dan menangis sejadi-jadinya. Tak berapa lama saya yang kacau di tenangkan oleh salah seorang teman ibu saya dengan dipeluk. Kemudian dokter datang dan ibu saya dibawa ke ruangan khusus.

Setelah kejadian tersebut ibu saya koma, di hari ke tiga setelah koma ibu saya sadar dan setelah memalui pengobatan beberapa bulan ibu saya sudah sembuh total dari penyakitnya. Tahun 2008 adalah tahun terberat dalam perjalanan hidup saya dan tahun yang tidak akan saya bisa lupakan.

Tentang kejadian yang mengubah diri

Setelah lulus SMA saya melanjutkan kuliah di kota Yogyakarta. Saya yang sedari lahir tidak pernah meninggalkan rumah di Bekasi sekarang harus hidup sendiri di kota yang sama sekali asing bagi saya.

Awal-awal kuliah saya hanya seorang mahasiswa yang kuliah dan pulang kosan, kuliah dan pulang kosan begitu saja. Hingga saya di ajak salah seorang teman saya untuk ikut sebuah organisasi. Awalnya saya tidak terlalu tertarik berorganisasi karena saya memang sama sekali tidak pernah berorganisasi.

Organisasi yang saya ikuti adalah organisasi pergerakan mahasiswa, di dalam organisasi tersebut saya banyak belajar tentang perjuangan rakyat yang ditindas oleh penguasa, mengetahui sistem kapitalisme yang mencekik rakyat kecil dan hal hal yang membuat rakyat menderita di negeri ini. Ada seorang teman mengatakan dalam sebuah diskusi, kerjaan mahasiswa sebenarnya adalah membaca buku, diskusi lalu aksi.

Berdinamika di organisasi tersebut banyak merubah pola pikir saya, dari seorang ABG yang labil menjadi seorang yang lebih peka terhadap keadaan sekitar, disana saya juga belajar bagaimana berbicara dengan fasih didepan forum dan berorasi di depan publik ketika aksi turun kejalan, hal yang sama sekali tak pernah saya lakukan sebelumnya. Hingga sekarang saya terbiasa mengisi sebuah diskusi bahkan pernah mengisi sebuah pelatihan mahasiswa.

Hobi menulis saya membawa saya untuk mengikuti organisasi pers mahasiswa di kampus, tanpa meninggalkan organisasi saya yang terdahulu. Di organisasi pers mahasiswa pikiran saya lebih dibuka kembali, banyak hal-hal baru yang saya dapat. Berbagai teori dan latihan jurnalistik saya dapatkan hingga saya sekarang bisa reportase tentang kejadian di kampus, di Yogyakarta bahkan ke berbagai kota di Indonesia.

Bukan hanya ilmu yang saya dapat di organisasi namun juga sahabat yang benar-benar berjuang bersama, sebagai sesama perantau yang jauh dari rumah dan orang tua, saya mendapatkan sahabat yang membuat saya berasa dalam suatu keluarga.

Tentang yang dihargai

Diri sendiri : Saya menghargai diri saya yang dapat konsisten dan resisten terhadap hal yang saya pilih. Saya dapat menyingkirkan kebutuhan pribadi saya untuk keperluan bersama temasuk banyak menyisihkan waktu, materi bahkan sampai kehilangan pacar. Haha

Keluarga : Saya menghargai keluarga saya yang banyak mensuport saya walau saya sama sekali belum pernah membuat keluarga saya, terutama orang tua saya bangga terhadap diri saya.

Orang lain : Sifat saya yang memang plural, tak pernah membedakan ras, suku dan agama membuat saya selalu menghargai semua orang.

Indonesia : Saya menghargai keanekaragaman negeri ini, saya menghargai sejarah panjang negeri ini saya menghargai SDA dan SDM yang melimpah di negeri ini, saya menghargai seberapapun jiwa nasionalisme yang tumbuh di negeri ini. Saya menghargai Indonesia.

Kehidupan :  Saya menghargai setiap masalah yang saya dapatkan, karena saya sadar kehidupan tidak akan lepas dari masalah bahkan ketika saya mendapat kesenangan dan rezeki. Karena tesa bertemu anti tesa menghasilkan sintesa dan sintesa pasti akan menghasilkan tesa baru. Jadi kehidupan adalah masalah, jika masalah hilang adalah ketika kehidupan sudah tidak ada. Saya menghargai setiap masalah dan berusaha menyelesaikan setiap masalah dengan bijak.

Tentang simbol diri

Saya adalah pensil dan kertas. Saya tidak akan bisa diam melihat kertas kosong tanpa saya coreti dengan gambar-gambar, terlebih menggambar teman sendiri. Saya paham bakat terbesar saya adalah menggambar. Dari kecil hobi saya yang membaca dan mengoleksi komik menginspirasi saya untuk membuat komik.

Komik pertama saya adalah ketika SMP, saya membuat komik setebal sepuluh halaman yang hanya untuk dinikmati saya sendiri dan kakak laki-laki saya. Lalu saya terus membuat komik, sampai ketika saya SMA saya membuat komik dengan karakter di komik saya adalah teman-teman saya sendiri.

Komik tersebut mendapat sambutan sangat bagus dikalangan teman-teman saya, saya membuat berjilid-jilid komik dengan cerita yang menurut saya dan teman-teman saya sangat lucu. Hingga setiap datang ke sekolah pasti ditanya tentang sudah selesai atau belum seri terbaru komik saya. Melihat teman saya terbahak-bahak dan berebut membaca komik yang saya buat merupakan penghargaan luar biasa untuk saya waktu itu.

Tidak berhenti membuat komik saja, saya adalah seseorang yang sangat senang meledek teman saya dengan gambar, saya senang menggambar muka teman di papan tulis di buku tulis dan dimanapun. Setiap jenjang pendidikan pasti ada saja seorang teman yang menjadi korban saya. Teman saya tersebut saya gambar berulang kali dimanapun, untuk jadi bahan ledekan teman yang lain hingga terkadang teman saya tersebut marah.

Belum lama ini saya mencoba membuat proyek komik strip namun gagal karena saya malas melanjutkannya dan tidak dapat sambutan yang positif dari pembaca. Karya komik strip saya pernah masuk media cetak kampus dua kali dan karikatur sekali membuat saya bangga akan hobi saya walau sangat belum apa-apa.

Tentang Imajinasi Indonesia 2030

Sebagai seorang mahasiswa fakultas hukum saya selalu membayangkan ideologi politik apa yang cocok untuk Indonesia kedepan, setelah demokrasi sudah tak mampu menyelesaikan masalah di Indonesia. Banyak dari kalangan teman berangapan bahwa Indonesia harus menjadi negara sosialis, karena cita-cita awal Soekarno memang menjadikan Indonesia menjadi negeri sosialis.

Namun kupikir cita-cita sosialisme di jaman sekarang sudah tidak relevan, karena rakyat tidak hanya membutuhkan kesejahteraan namun juga membutuhkan kebebasan berpendapat. Maka imajinasi saya tentang indonesia tahun 2030 atau jika bisa secepatnya adalah negara yang berideologi politik Sosial Demokrasi dimana penjelasan singkatnya, harapan kesejahteraan rakyat terpenuhi dan kebebasan berekspresi dan berpendapat.  

Tentang judul biografi

Judul biografi saya adalah “Against Character Himself”. Karena hal tersulit yang saya hadapi adalah diri sendiri. Bagaimana saya bisa melawan diri saya sendiri, mengesampingkan kepentingan pribadi, melawan rasa malas, keinginan untuk hanya bermain-main dll adalah lawan saya.

Saya sadar musuh utama mahasiswa dijaman sekarang bukanlah pemerintah yang korup atau penguasa penindas rakyat seperti halnya mahasiswa dijaman dahulu. Musuh mahasiswa sekarang adalah hedonis, apatis, pragmatis dan opurtunis. Kehidupan jaman sekarang mudah sekali membentuk mahasiswa menjadi mahasiswa yang bersifat hedonis, apatis, pragmatis, opurtunis dan itulah musuh utama mahasiswa dan kelas menengah yang harus dilawan. Saya adalah seorang yang sangat berusaha melawan diri sendiri.

Tentang Hal Konyol Dalam Hidup

Banyak hal konyol yang terjadi dalam hidup saya, namun yang paling saya ingat adalah ketika saya dan teman saya yang waktu itu masih SMP, sedang bermain pura-pura berantem agar menarik perhatian orang lewat. Dan benar saja akting kita menarik perhatian ibu-ibu, walaupun kita sudah bilang bahwa itu pura-pura, ibu-ibu tersebut tetap memarahi kita. 


Tulisan ini dibuat untuk Rubrik Kolaborasi Bukik Bertanya

8 komentar:

  1. tentang hal konyol dalam hidup lo,gue inget bgt tuh. Apakabar temen lo kenedy? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha oh iya waktu itu ada lo juga ya?
      ga tau kabar kenedy gmana, gua aja ga tau dia kuliah dimana

      Hapus
  2. Keren
    coba salah satu karikatur di post di sini

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih :D
      coba liat di post2 saya sebelumnya, saya sering bikin komik strip walau bentuknya bukan karikatur.

      Hapus
  3. Belum bisa membayangkan apa yang akan saya rasakan kalau kejadian di tahun 2008 itu terjadi juga pada saya. Pastinya itu adalah cobaan yang sangat berat dalam hidup.

    Ini kunjungan pertama saya di blog ini, salam kenal dari dinneno :D
    Oia, aktifkan dong pilihan Nama/URL untuk memberi komentar nya biar lebih mudah dalam berkomentar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setiap orang punya cobaan yang berbeda2, :D

      nama/URL seperti apa? malah saya tidak mengerti?

      Hapus
  4. haloo
    blognya bagus ya:) sumber info
    kalo bisa folow back dan komentar blog saya terimakasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. haduh mba, ini komennya spam banget.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...