Rabu, 27 Februari 2013

Silver Linings Playbook : Cinta Dua Gangguan Mental



Silver Lining Playbook sekilas dapat mencuri perhatian penikmat film dengan jajaran pemain yang tengah bersinar saat ini, sebut saja Bradley Cooper dan Jennifer Lawrance memang memiliki daya tarik dengan “good looking” nya, namun bukan pemain “good looking” yang membuat film comedy romantic ini luar biasa, melainkan akting memukau kedua pemain utama tersebut yang dapat membuat saya berdecak “gila” saat menyaksikan film arahan David O. Russell ini.

Tahun 2010, David O. Russell yang telah dikenal berhasil dengan film Fighter, mencoba peruntungan kembali dengan membuat comedy romantic Silver Linings Playbook. Film yang berfokus pada dua psychologically damaged dan segi cerita yang sederhana ini, memang mengharuskan dua pemeran utama tampil maksimal karena jiwa dari film ini dapat hidup dengan penghayatan yang luar biasa. 

Bradley Cooper yang saya kenal sebelumnya lewat film Hangover, diluar dugaan dapat memerankan seorang psychologically damaged dengan sangat bagus dari awal film ini dimulai, berbeda jauh saat ia bermain di Hangover yang menurut saya akting standar Hollywood. Hal yang tak boleh dilewatkan adalah Jennifer Lawrence, aktris yang melijit namanya lewat film Hunger Games. Jennifer lawrence menjadi pemain yang menurut saya paling berkesan, memang sudah sepantasnya Oscar menganugrahi penghargaan best actress padanya lewat akting memukaunya di film ini.

Silver Lining Playbook bercerita tentang dua orang penderita gangguan mental akibat dari perjalanan hidupnya yang keras. Pat Solatino Jr (Bradley Cooper) adalah seorang mantan guru SMA penderita penyakit bipolar disorder. Pat baru saja dikeluarkan dari mental institution Balltimore setelah ia menghajar habis-habisan seorang guru, rekan kerja sekaligus pasangan selingkuh istri Pat, Nikki (Brea Bee). Pat masih percaya bahwa ia dapat rujuk kembali dengan istrinya selepas ia keluar dari rehab.

Kemudian Pat secara tidak sengaja bertemu dengan Tiffani (Jennifer Lawrence), seorang wanita yang menderita gangguan mental karena kematian suaminya secara mendadak. Tiffani memiliki tipikal meledak-ledak dan mengeluarkan apapun yang ia pikirkan secara blak-blak’an tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya. Setelah kematian suaminya Tiffani menjadi sex addict, yang mengakibatkan ia dipecat dari pekerjaannya. Berbeda dengan Pat yang memiliki sifat lovable, membuat Pat merasa tidak cocok dengan Tiffany di awal pertemuan.

Senin, 29 Oktober 2012

Film As One: Merubah Pandangan akan Hubungan Dua Korea.


Bukan karena gelombang hal yu sedang besar-besarnya di Indonesia alasan saya meriview film Korea Selatan ini, karena jujur saya tak begitu senang ikut mengandrungi budaya Korea yang sedang dipuja-puja sekarang. Film Korea selatan ini bukan tentang drama cinta-cinta’an yang sedang merebak di kalangan remaja tanah air, film ini tentang perjuangan, persahabatan lewat olah raga ping pong dan yang lebih utama dari film ini adalah merubah pandangan penonton akan hubungan Korea utara dan Korea selatan.

Berawal dari Hyeong Jeong Hwa, pemain ping pong putri terhebat se-Korea selatan, dalam China Asians Games tahun 1990 berhasil mengalahkan Lee Bun Hwi pemain ping pong putri dari Korea utara di semi final. Lalu di final Hyeong Jeong Hwa harus bertemu utusan China yang sudah lima kali berturut-turut mendapatkan medali emas dan benar saja Korea selatan harus bertekuk lutut dari China. Hyeong Jeong Hwa harus puas dengan mendapat medali perak.


Enam bulan kemudian Kejuaraan Dunia Tenis Meja di Chiba, Jepang di mulai, Hyeon Jeong Hwa berlatih keras untuk mendapatkan medali emas. Hyeon Jeong Hwa digambarkan sebagai perempuan muda cantik berkarakter kuat dan mempunyai tekat yang keras untuk memenangkan medali emas. Ia juga berjanji akan merubah warna perak dalam medalinya menjadi emas untuk bapaknya yang sedang tergolek sakit tak berdaya.


Jumat, 27 April 2012

Jurnalis Robot

Saya sempat tercengang, ketika membaca post dari pak Pujiono J.S di aliran Google+ saya tentang kemungkinan 90% pekerjaan membuat berita oleh pers akan digantikan oleh robot 15 tahun mendatang, dari sumber yang di dapatnya dari artikel yang diterbitkan oleh wired.com.


Pasalnya ketika membaca artikel tersebut, baru saja saya pulang dari melakukan kegiatan reportase / meliput suatu berita untuk terbitan LPM Keadilan online, membuat saya berfikir bahwa pekerjaan yang baru saya lakukan tadi ternyata bisa dilakukan oleh seoongok mesin yang tak bernyawa. Wow.

Adalah perusahaan Narrative Science, yang mengembangkan teknologi membuat algoritma yang memungkinkan mesin untuk mampu memproduksi berita hanya dalam waktu 12 detik setelah semua data dimasukkan.

Dalam artikel di Wired.com diceritakan bahwa berita tentang sebuah pertandingan bisbol di Amerika bisa diproduksi hanya dalam waktu 12 DETIK setelah pertandingan selesai. Saat itu kemungkinan besar para pemain kedua tim pun belum selesai untuk saling berjabat tangan. fantastis, bukan? Ini tentu saja lebih menguntungkan daripada mengandalkan seorang reporter lulusan jurusan jurnalistik universitas ternama manapun.

Jika beberapa tahun lagi kegiatan memproduksi berita akan dilakukan oleh robot atau mesin dan ternyata dapat lebih efisien serta cerdas maka pekerjaan pers hanya akan menjadi bagian sejarah peradaban manusia, sialnya saya adalah orang yang tidak menginginkan hal itu terjadi, belum lagi akan banyak seseorang wartawan kehilangan pekerjaannya karena pekerjaannya telah digantikan oleh mesin.

Sejarah perkembangan pers adalah sejarah kebangkitan bangsa, khususnya bangsa Indonesia. Dimana penggiat pers pribumi pertama kali bapak Tirto adhi Soejo adalah pengispirasi perjuangan para pribumi menumpas para kolonial di Indonesia. Banyak orang hebat lainnya lahir dari latar belakang seorang pers sebut saja Gonawan Muhammad pendiri dan mantan pemimpin redaksi majalah Tempo yang sampai sekarang masih mengisi kolom caping di majalah Tempo, Andy F Noya dengan acara Kick Andinya dapat menginspirasi rakyat Indonesia dan banyak lagi.

Akankah nama-nama legendaris wartawan, sastrawan, penyair dan penulis akan terhenti oleh mesin yang dapat menulis sendiri. Saya rasa ada hal yang harus dilakukan oleh mesin dan ada hal yang tetap harus dilakukan manusia, jangan sampai beberapa tahun mendatang penghargaan Pulitzer (penghargaan bergengsi para pers) akan dimenangkan oleh sebuah mesin yang dapat menulis dan membuat berita sendiri.


Minggu, 15 April 2012

Konser “VOTE” Mengkampanyekan Indonesia Timur (Photo Hunting)



Awalnya saya diajak Rio teman saya yang sedang kerja magang di LSM Kontras untuk ikut mejadi panitia konser yang di adakan oleh VOTE. Saya tertarik karena konser tersebut bisa di bilang sangat “WOW” di bintangi Slank, SID, Shaggi Dog, Gugun Blues Shelter, Tompi, Ras Muhammad dan banyak lagi. Namun saya sama sekali tidak tahu apa itu VOTE sebagai penyelenggara Konser yang bertajuk “What is voice from the east” tersebut.

Sebelum saya menuju alun-alun kidul Yogyakarta tempat berlangsungnya konser tersebut, saya terlebih dahulu menuju wisma Gadjah Mada tempat menginap para panitia yang isinya banyak dari orang-orang Kontras, di wisma tersebut saya bertemu Gleen Fredly sedang duduk sendiri sambil memegang handphonennya. Setelah saya mengetahui, ternyata Gleen Fredly adalah orang yang mengagas VOTE atau kepanjangan dari Voice from the east.

Lalu apa itu VOTE??

VOTE (Voice From the East) merupakan sebuah kampanye sosial dengan basis budaya untuk menyuarakan perdamaian, anti kekerasan, kesejahteraan, pelestarian lingkungan hidup dan demokratisasi untuk Indonesia Timur.


Ya, INDONESIA TIMUR. Karena Indonesia timur sebenarnya memiliki potensi yang sangat menakjubkan namun pemerintah kurang memperhatikan kemajuan dan potensi-potensi yang dimiliki Indonesia timur, bahkan di Indonesia timur terjadi exploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh Freeport, hingga merugikan rakyat sekitar belum lagi dengan banyaknya konflik-konflik yang bahkan dilakukan oleh TNI.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...