Kamis, 04 Agustus 2011

The Master of Writing "Pramoedya"


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Pramoedya Ananta Toer



Belasan tahun dalam penjara dan pengasingan tak membuatnya sejengkalpun berenti menulis bagi dia mungkin menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Bayangkan dari hasil tulisan tangannya selama di penjara dan pengasingan telah lahir lebih dari 50 karya dan telah di terjemahkan dalam 42 bahasa. 

Beliau adalah tokoh yang benar-benar mengispirasi gua, sosok seorang Pramoedya sebenarnya belum lama ini gua kenal tapi, setelah gua sedikit membaca dan mendengar obrolan teman gua tentang karya’nya gua yakin beliau termasuk orang yang sangat berpengaruh di Indonesia.


tetralogi Buru

Karya yang paling fenomenalnya adalah tetralogi Buru, kenapa di namain tetralogi Buru? Pulau Buru adalah pulau pengasingan beliau, karena beliau di tuduh terlibat dalam peristiwa G30sPKI, tau kan G30sPKI? Masak ga tau .. haha
 
Tanpa peradilan Pramoedya di asingkan ke pulau Buru oleh pemerintah pada waktu itu, di dalam pengasingan ia tidak berdiam diri atau pasrah, ia terus menulis hingga lahir karya sastra fenomenal tetralogi Buru, novel Bumi manusia, Anak semua bangsa, Jejak langkah dan Rumah kaca.

Pram muda

Dari semua karyanya yang menurut gua ajegile, beliau satu-satunya orang Indonesia yang berkali-kali masuk nominasi untuk mendapatkan nobel sastra dan mendapat segudang penghargaan dari luar negeri diantaranya :

·         Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988
·         Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989
·         Wertheim Award, "for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people", dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995
·         Ramon Magsaysay Award, "for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people", dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995
·         UNESCO Madanjeet Singh Prize, "in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence" dari UNESCO, Perancis, 1996
·         Doctor of Humane Letters, "in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom" dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999
·         Chancellor's distinguished Honor Award, "for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding", dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999
·         Chevalier de l'Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Perancis, 1999
·         New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000
·         Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000
·         The Norwegian Authors Union, 2004
·         Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004

Wuihh banyak banget kan... dan yang gua bikin miris adalah kenapa tidak ada apresiasi dari negaranya sendiri, penghargaan dari negara sendiri hampir tidak ada, padahal menurut gua semua karya sastranya adalah sumbangan dari Indonesia untuk dunia.

Bahkan di jaman Orde baru karya-karya Pramoedya tidak boleh beredar karena beliau di tuduh sebagai tokoh komunis, karyanya banyak yang di bakar dan di musnahkan bahkan banyak juga karyanya yang hilang di tangan penerbit yang tak bertanggung jawab. Sebagian yang selamat dan bisa sampai di tangan pembaca adalah karya yang di selamatkan oleh orang asing dan tersimpan baik dalam arsip orang asing tersebut. 


Gua bener-bener miris, Indonesia mempunya pahlawan dalam karya sastra yang sangat tak di hargai bangsanya sendiri, makanya kenapa gua nulis postingan ini, karena gua pengen anak muda sekarang lebih mengenal sosok seorang Pramoedya dan mulai membaca karya-karyanya yang sarat nilai historis Indonesia pada masa lampau.

Ayo Indonesia.. kita bisa bangga baca novel Harry Potter, kita bisa bangga baca novel Twiligh dan novel terjemahan yang lain, tapi gua lebih bangga baca novel buatan dalam negeri, jauh lebih bermanfaat, menambah ilmu pengetahuan dan jauh lebih BAGUS...

I LOVE INDONESIA what about you??

 
***

Kalau mau memulai membaca karya Pramoedya, gua saranin jangan baca langsung tetralogi pulau Buru, bukan apa-apa kalau gua pribadi sih memulai dengan membaca karyanya yang lebih tipis hehe, tapi gua bisa jamin benar-benar bagus. 

Pertama kali gua baca novel Pramoedya adalah novel yang berjudul “Midah si manis bergigi emas”, novel ini udah pernah gua ulas sedikit di postingan gua yang ini Dua buku. Novelnya bener-bener bagus, gua masih kebayang-bayang ceritanya sampe sekarang.

Dan baru aja sore ini gua beli di gramedia salah satu karya dia yang berjudul “Larasati” belum gua baca dan insya Allah nanti gua buat ulasannya di postingan selanjutnya..

gak makan 5 hari 5 malem buat nabung beli buku ini

Selain tetralogi pulau Buru, yang recomended banget buat di baca adalah “Gadis Pantai” dan “Arok dedes” top seribu jempol...

 


Buat yang udah bosen sama novel lawakan-lawakan remaja gak bermanfaat dan cuma buat bego, karya Pramoedya bisa jadi bacaan yang paling bagus buat nambah inspirasi dan membuat semakin mencintai Indonesia :D

8 komentar:

  1. waw.keren.tapi gue ga kuat baca karya sastra yg SEBERRRAAAAT itu.angkat gajah bunting aja gue kewalahan.=) wkwk.salam gahuol

    BalasHapus
  2. di coba aja, gak berat kok...
    baca buku pramoedya tu rasanya bener2 masuk kedalam ceritanya...

    BalasHapus
  3. hahahaha,,,,yang bener,gak makan lima hari lima malem karena beli buku itu,,,,padahal hanya tidak sengaja aja kan pergi ke gramedia mengisi waktu untuk berbuka puasa,,,,,,,,hahahaha
    tapi buku karya pramoedya ananta toer memang bagus walupun aku hanya membaca sekilas saja,,tapi aku suka,,,hahahaha

    BalasHapus
  4. Aseek!!
    Punya koleksi apa aja ndra?

    BalasHapus
  5. @putra : mana bisa menilai kalo cuma baca sekilas.. -.-

    @mas Yogi : cuma baru punya dua buku.. hehe
    tapi kalo pinjem teman udah lumayan banyak..

    BalasHapus
  6. wah salam kenal bang hendra :)

    baru tahu nih tentang bapak pramoedya :D

    BalasHapus
  7. salam kenal juga

    wah novel karangan pramoedya itu adalah novel yang harus di baca sebelum mati .. haha

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...