Selasa, 03 Mei 2011

Sedikit Perjuangan untuk yang Terhebat

"Perlahan mendekat, terlihat lebih jelas raut wajahnya, rasa lelah menjalani hidup tersembunyi dibalik senyum manis. Memang kali ini ia tidak pandai membohongi anak yang keluar dari rahimnya ini. Di tinggal sendiri oleh suami selamannya bukan alasan untuk terpuruk "

Mata sayup naik turun menatap lembaran kertas penuh huruf berbaris. Lampu remang menyinari ruangan sunyi menyisakan suara putaran kipas menderu. Bantal lembut penyangga leher dengan posisi bersandar menggoda kelopak mata perlahan lebih menurun. Konsentrasi memudar seiring beratnya kelopak mata ketika tertutup tak tertahan sedikit bayangan hari esok mengangkatnya kembali untuk lebih fokus. Hembusan putaran baling baling kipas membawa lebih dekat dengan dunia mimpi namun, keadaan lebih menahan untuk mengerti satu per satu huruf berangkaian. Tiada yang lebih menyiksa dari keadaan ini hingga hari esok di hadapakan oleh beberapa pertanyaan tertulis diatas lembar ujian, berharap perjuangan ini tak sia sia.


“Huaaahhhh…” merebahkan badan diatas kasur empuk merupakan pilihan paling tepat dalam keadaan ini nikmat bagai melayang di awan. Terlihat langit langit kayu putih dengan cat tidak merata. Sesekali membetulkan posisi tubuh mencari yang terbaik. Kelopak mata menurun tanpa paksaan membuat keadaan menjadi lebih redup perlahan gelap menyelimuti, menerbangkan pikiranku kemanapun yang diinginkan.


Tergambar sesosok perempuan dengan wajah bahagia senyum lebar membuat matanya terangkat manis. Rambut terurai halus dengan wangi khas shampo favorit mengibas. Perlahan mendekat, terlihat lebih jelas raut wajahnya, rasa lelah menjalani hidup tersembunyi dibalik senyum manis. Memang kali ini ia tidak pandai membohongi anak yang keluar dari rahimnya ini. Di tinggal sendiri oleh suami selamannya bukan alasan untuk terpuruk. Berkerja sangat keras sendiri demi pendidikan anaknya merupakan harga mati yang tak dapat di hindari. Keluh kesah menjadi simpanan hati, demi buah hati rasa lelah bukanlah apa-apa. Ketika menengok hasil kerja keras pada anaknya yang di perjuangkan namun tak seperti yang di harapkan, sedikit raut kekecewaan tergambar di wajah menusuk hati siapapun yang melihat. Ya tuk kesekian kali aku mengecewakannya. Nilai burukku membuatnya keluh sedih menusuk. Huaahh.. teringat hal ini selalu menamparku sangat keras, memotivasi lebih memahami isi dalam tiap lembar kertas penuh tulisan berbaris. Berharap penghargaan berupa nilai dapat membuatnya tersenyum melihat anaknya ini.


Bertahun tahun menjadi orang tua sendiri dengan tiga orang anak yang selalu menuntut haknya. Harinya diisi dengan pekerjaan menumpuk beban sangat berat dipikulnya, tanggung jawab akan buah hati selalu menjadi motivasi paling besar. Pagi memulai aktivitas dan selalu di akhiri dengan malam menghentikannya mencari sesuap nasi demi kehidupan.  Sekilas ketegaran akan menjalani hidup begitu kuat dalam dirinya namun, terkadang ia tak mampu membohongi kelelahannya. Keceriaan tak cukup untuk menutupi rasa penat yang semakin tergambar dalam raut raut wajahnya. Matanya mulai terlihat lebih berat dari sebelumnya, gerakannya lebih lemah dari yang lalu sepertinya waktu telah mengikis kemampuannya. Bukan hal yang mudah untuk bertahan sendiri dalam kehidupan yang semakin keras. Kekuatan apa yang ia miliki? Bertahun tahun menghidupi buah hati sendirian hingga detik ini.

Betapa sangat bodohnya aku ketika membuatnya kecewa. Aku tidak dapat menemukan bagian pada diriku yang dapat membuatnya bangga? Namun ia selalu tersenyum pada diriku seolah menyemangati aku tuk menjadi lebih baik. Membayangkan perjuangannya menjalani hidup membuatku sadar akan kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang bukan hanya di isi dengan main main. Perempuan ini telah membuka mataku untuk mengerti kehidupan. Dulu aku yang selalu memanjakan egoku namun, aku tidak sadar perempuan yang selalu berdiri di depanku sangat berharap padaku berharap aku kelak menjadi seorang yang mampu dengan mudah menjalani kehidupan tanpa bersusah payah.

Begitu besar pengorbanannya untuk ku tak bisa di ganti dengan apapun. Melihat dirinya tersenyum melihatku saat ini merupakan hal yang sangat sulit. Kekecewaan berkumpul dalam dirinya. Bukanya aku tak mau membuatnya senang  namun hanya inilah kemampuanku, hingga aku sekarang tersadar tak ada yang paling aku cari di dunia ini kecuali segaris senyuman bangga melihat buah hatinya ini.

Dedicated for my beloved Mom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...