Minggu, 08 Mei 2011

Mengenang kisah-kisah indah


"Sosoknya menawan kulit putih memiliki badan tidak gemuk tidak juga kurus, dengan wajah manis bibir tipisnya selalu tersenyum, beberapa kali ia tersenyum padaku tapi bukan hal yang istimewa karena ia akan tersenyum pada siapa saja yang ia temui"

Mengenakan kemeja  baru berwarna putih cerah terpantul sinar matahari dengan kerah yang masih kaku berdiri mengesek-gesek leher ketika menggerakan kepala. Celana pendek biru terang yang juga masih baru. Keduanya membuatku sedikit tidak nyaman. Aku memang tidak suka mengenakan seragam sekolah yang masih baru, benar-benar memperlihatkan bahwa kita siswa baru yang masih “culun”, menjadikan ku seperti rusa dikelilingi para singa lapar. Membayangkan apa yang mereka bicarakan dan tertawakan ketika melihatku dengan jubah yang mencolok ini sungguh menyebalkan.

           Ya ini memang mingu-minggu pertamaku menjadi siswa SMP. Berada di tengah orang-orang asing dan lingkungan yang tak ku kenal. Bisa di bilang kemampuanku beradaptasi sangat lah jelek melebihi ketidak bisaanku terhadap matematika. Kurasa siswa lain lebih cepat menyesuaikan diri, baru saja berkenalan mereka sudah bisa bercanda dan tertawa, ada yang sudah mengobrol asik seperti sudah lama kenal bahkan sudah kejar-kejaran senang sekali. Aku hanya dapat melihat tingkah laku mereka sendirian sambil duduk tak bergairah di belakang, menampilkan wajah lemas berpangku tangan dengan kelopak mata yang hanya terbuka setengah. Melihat mereka menjadi lebih akrab satu sama lain di dalam kelas membuatku tak nyaman, huuhh.. benar-benar muak tak tahu kenapa, ingin rasanya cepat-cepat pulang masuk kamar kunci pintu menyendiri dan merebahkan badan di kasur tertidur sampai tua.

           Sudah satu minggu lebih  aku merasa terjebak di sekolah ini dan belum memiliki teman. Hanya ada satu seseorang yang sedikit dapat menggobrol denganku, tak jauh ia adalah teman sebangkuku. Wajahnya kotak dengan rambut lurus namun kaku berdiri, suara menggelegar ketika berbicara perawakan gemuk tak terlalu tinggi dengan lobang hidung besar mendominasi wajahnya sehingga aku merasa bila berlama-lama berdekatan dengannya akan kehabisan udara kalah bersaing dengan lobang hidungnya. Taufik nama yang sangat pasaran, tinggal tak jauh dari kediamanku sedikit arogan namun sangat polos, suka bermain sepak bola dan sangat tak pandai memainkannya.

           Menunggu pergantian jam pelajaran adalah hal yang paling menjenuhkan, melihat siswa lain berteriakan berhamburan bercanda sungguh mengesalkan. Di tengah kegaduhan membuat pusing kepala muncul sesosok perempuan manis dengan rambut lurus sebahu poni menyamping indah, mengenakan kacamata membuatnya terlihat lebih elegan, dengan bibir tipis tersenyum kepada siapapun yang di lihatnya. Demi Tuhan benar-benar oasis di padang gurun dan bukan fatamorgana, sepertinya ia baru datang dari toilet dan memasuki kelas lalu duduk dengan temannya berdua melanjutkan obrolan. Aku yang duduk di belakang dapat dengan jelas melihat bahunya dan sesekali melihat wajahnya yang sedang menoleh di depanku. Seketika wajah tak bergairahku berubah menjadi wajah penuh antusias memperhatikan gerak geriknya, sungguh menyenangkan.

Ketika ia berbicara menghadap teman sebangkunya aku dapat dengan jelas melihat wajahnya dari samping. Ia tersenyum mengerakan tangannya mengangkat bahu berwajah serius lalu tersenyum kembali mulutnya tetap berbicara, tak terdengar apa yang di bicarakan namun yang pasti terlihat sangat asik. Setiap ekspresi wajah dan gerakan tubuhnya sangat menarik. Waaa.... tiba-tiba aku terhentak kaget, Taufik mengagetkanku yang sedang fokus memperhatikan bidadari di depan.
            “Anj****rrrr... kaget gua sinting..!!!” sontakku
            “Haha.. lagi ngeliatin apaan lo ndra?” tanya Taufik dengan muka terlihat puas berhasil menggagetkanku dengan sukses.
            “Pasti lagi ngeliatin Dian ya? Dia emang cewek paling cantik di kelas ini, rumahnya di harapan baru di belakang toko peralatan olahraga gak jauh dari sekolah ini, anak ketiga dari empat bersaudara, bokapnya karyawan bank swasta di Jakarta nyokapnya ibu rumah tangga, kedua kakaknya udah kuliah di Universitas negeri di Jakarta” tukas Taufik menjawab pertanyaannya sendiri dengan bangga merasa mengetahui banyak tentang Dian.
              “Buset.... gimana lo tau banyak tentang dia? Gua aja baru liat dia hari ini?” tanyaku heran sedikit gak percaya.
              “Kalo tentang cewek cantik gua pasti tahu lebih dulu dari cowo yang lain, wajar kalo lo baru liat dia soalnya dia baru masuk tiga hari ini karena sakit, lo mau tanya apa lagi tentang Dian gua pasti bisa jawab?” tanya Taufik dengan sombong yang memang sedari tadi berdiri di sampingku sambil mendengakkan kepalanya dan menunjuk dadanya dengan jempol tangan kanan, terlihat jelas isi lobang hidungnya yang besar dari pandanganku yang sedang duduk, membuatku tak selera mengobrol lama-lama dengan dia.

              Tak tersadar pembicaraanku dengan Taufik mendapat perhatian dari cowok-cowok lain di sekitar mengingat suara taufik yang besar dapat dengan mudah di dengar yang lain. Maka aku menghentikan pembicaraan ini, lain kali jika ku berbicara hal privasi dengan Taufik akan ku bekap mulutnya dan membawanya ke bawah kolong meja sambil tetap membekapnya, agar tak akan ada yang mendengar pembicaraan aku dan Taufik.Yap ternyata bukan hanya aku yang mengagumi Dian banyak cowo di kelas yang juga sering memperhatikannya sepertiku bahkan aku adalah cowo di kelas yang paling terlambat mengetahui Dian. Bukan masalah buatku. Aku adalah tipe cowok yang apabila mengagumi seseorang tak akan buru-buru mendekatinya, aku lebih senang mengagumi secara diam-diam melihat gerak-geriknya tanpa di ketahui siapapun apalagi orangnya. Perbedaanku dengan Taufik jika ia mengagumi seseorang ia buru-buru dan agresive mendekatinya mencari tahu tentangnya lalu menembaknya dan siapapun tahu pasti jawabannya di tolak, satu hal yang ku senang dari sifatku ternyata aku tahu diri dan tahu malu.

Dian adalah perempuan pertama yang ku kagumi dalam masa sekolah menengah pertama. Sosoknya menawan kulit putih memiliki badan tidak gemuk tidak juga kurus sangat pas dengan tubuhnya, dengan wajah manis bibir tipisnya selalu tersenyum, beberapa kali ia tersenyum padaku tapi bukan hal yang istimewa karena ia akan tersenyum pada siapa saja yang ia temui, sungguh kebiasaan yang sangat baik. Kaca mata membuat ia terlihat menjadi anak yang pintar dan beratitute baik namun kenyataannya pun ia seperti itu. Sampai tiga tahun berlalu aku selalu terpana jika melihatnya, sangat elegan dan manis sungguh beruntung yang dapat memilikinya.

Berbeda dengan di sinetron atau di film yang di akhir sebelum perpisahan akan menyatakan perasaannya namun, sampai terakhir kali melihatnyaku tak berani tuk menyatakan rasa bahkan tak terpikir untuk menyatakanya. Aku tidak tahu perasaan ini di sebut apa? Tertarik, menyukai, cinta atau bahkan sayang, tapi kurasa lebih tepat di sebut kagum. Setidaknya rasa kagum ini menjadi awal dan permulaan munculnya kisah-kisah lainku pada seorang lawan jenis. Kisah yang sampai kapanpun akan selalu menarik untuk di ceritakan pada siapapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...