Selasa, 03 Mei 2011

Benci Keadaan Ini


“Manusiawiku meluap tak terbendung menumpahkan sejuta rasa membasahi tubuh. Berangan ingin mengulang dan memperbaiki kembali menjadi hal yang paling sia-sia membuang waktu”

Jantung berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Mengalir tak tersadar tetes keringat melewati dahi. Tangan sedikit bergetar tak dapat di hentikan. Hati ini seperti tersangkut duri besar mengganjal. Mata ini tak berani memandang siapapun apapun. Tertancap perih pandangan subjektif siapapun yang melihat. Membaca pikiran menjadi salah satu pilihan, tak satupun kebaikan terasa didada. Pikiran melayang jauh kedepan, rasa bersalah ini sungguh sangat menyiksa di hantam pandangannya akan kelakuan. Huaaahhh benci keadaan ini, aku merasa tak ada yang ku lebih-lebihkan dan ku kurang-kurangkan. Sedikitpun tak ada niat untuk menjadikan seperti ini bahkan satu titikpun. Pelajaran besar mencambuk sangat keras tubuh. Kurasa bekas cambukan ini takan hilang begitu saja dan akan sangat terlihat jelas bagi siapa saja yang mengetahui. 

Hanya bisa termenung sendiri merebahkan tubuh bergelut dengan pikiran melayang tak karuan. Akan sangat banyak kemungkinan terjadi, tapi yang ku tahu hanya kemungkinan buruk untukku. Tak ada yang lebih menyiksa dilematis menanggung malu terhadap semua. Mencoba melupakan dan mengabaikan namun akan sesekali terpikirkan dan menusuk satu batang jarum dalam hati. Mentalku tergerus sangat dalam, kuharap takan hancur. Bertebal muka menjadi pilihan, ku harap ku bisa. Takan dapat mengerti jika tidak merasakan sendiri. Tajam pisau takan lebih tajam dari perkataan seseorang namun ku tahu takan ada yang lebih tajam lagi dari persepsi-persepsi negatif. Menusuk paling inti dan melumatkan.

Pendewasaanku teruji kembali, bisakah ku terbiasa dengan keadaan ini?. Aku tak tahu harus mencuri kekuatan dari siapa, andai diperjual belikan akan ku beli berapapun. Manusiawiku meluap tak terbendung menumpahkan sejuta rasa membasahi tubuh. Berangan ingin mengulang dan memperbaiki kembali menjadi hal yang paling sia-sia membuang waktu. Berhati hati bersikap dalam keadaan yang sensitiv ini menjadi tujuan kedepan. Perjalanan hidup masih panjang, kubuang jauh kesalahan agar tak terulang. Kesekian kalinya aku diajari oleh pengalaman. Kuharap akan menjadi keras bukan kepalaku namun mentalku menanti apa yang terjadi kelak. Bukan hal yang mudah melewatinya, namun selalu ada pilihan untuk bertahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...