Senin, 31 Januari 2011

Gadis di Seberang Sana


“Tidak semua perbuatan bodoh berakhir dengan keluhan. Terkadang hal bodoh membuatmu mengingatnya kembali di tahun tahun kedepan dan tersenyum”

Hai aku bertemu dia. Gadis berparas manis memakai gaun ungu motif bunga bunga dengan rambut lurus namun keriting di ujungnya. Terlihat raut muka malu, mungkin dia takut atau dia tidak percaya diri tapi aku bisa melihat sangat jelas kalau dia sangat malu. 

Haha teringat sebelum kami berencana bertemu, dia tidak canggung sedikitpun berbicara padaku. Kami langsung akrab dari percakapan pertama. Banyak cerita yang dia katakan tentang dirinya akupun seperti itu tak mau kalah bercerita. Pikiranku di hipnotis suara khas yang tak bosan di dengar dengan barisan kata kata ekspresif nan lugu.

Dunia maya memang tak dapat di duga. Siapa yang menyangka dari tak sengaja membuka suatu halaman, bisa merubah kehidupanku bertahun tahun kedepan. Di dunia yang sudah tak bisa hanya bisa mengandalkan logika ini, sesuatu yang di sebut keberuntungan sangat di harapkan kedatangannya. Sayangnya sesuatu itu tak akan bisa di hitung kapan kedatangannya walau dengan tekhnologi yang sangat tinggi sekalipun.

Perlahan aku mendekatinya. Aku sudah menunggu hampir setengah jam waktu itu. Karna aku tidak suka menunggu aku pun sempat kesal di buat menunggu lama.
 Kekesalanku hilang seperti di tiup angin ketika melihat wajah manis memandangku. Senyumannya membuat  pipinya melebar manis di padu mata tajam melihat penuh tanda tanya, walau hanya hitungan detik ia tersenyum dan menatapku. 

Memang hari itu aku baru pertama kali bertemu dengannya . Bukan dia saja yang canggung akupun sangat canggung. Sifat ku sedari kecil yang pemalu ini membuat keadaan seperti ini seperti di neraka. Rasanya ingin cepat cepat pergi pulang dan tidur di kamar.

Tapi kali ini terasa berbeda, walau aku canggung malu setengah mati tapi perasaan ini tidak mau cepat cepat pulang. Jika ku menanyakan hal ini pada seseorang pasti ia dengan sangat mudah mengetahui mengapa kali ini aku tak mau cepat cepat pulang. Pertanyaan bodoh jika aku menanyakannya. 

Sepertinya ada hal yang lebih bodoh daripada menanyakan pertanyaan itu. Di saat ia sudah di depan mataku persis. Pikiranku membeku sangat cepat, mengakibatkan aku tak tahu harus membuka percakapan dengan berbicara apa selain berkata “Hai” dan hening menbosankan sesudah tiga huruf itu di lontarkan dari mulutku.

Tak terasa kejadian itu sudah lebih dari dua tahun yang lalu. Pikiranku melesat kembali ke momen yang tak akan bisa ku lupakan membuatku tersenyum dan meringis sendiri. 

Sudah banyak kejadian senang dan sedih yang kulalui bersama dia hingga saat ini. Dia masih tetap setia berdiri di sampingku entah sampai kapan ia sanggup dan aku sanggup. Aku pun merasa jauh ketika aku harus melanjutkan pendidikan ku di luar kota. Berkilo kilo meter jarak kita sekarang.  Aku percaya kamu selama kamu percaya aku entah sampai kapan ia sanggup dan aku sanggup hai gadis di seberang sana?

Jika aku bertanya pada waktu pasti ia bisa menjawabnya, hanya saja ia tidak ingin menjawabnya dan tak akan mau menjawab.

for my Beloved Dina Puspitasari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...